Untukmu Ukhti Al Muslimah -2

_COMPLEX COMMUNITY_{UNIQUE NEWS CENTER at home and abroad}

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb sekalian alam, shalawat serta salam semoga tetap tercurah kepada Nabi yang mulia Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti petunjuknya sampai hari kiamat.
Jangan terkejut sebelum engkau baca buku ini.
  • Seorang mahasiswi meminta kepada salah seorang teman puterinya agar menemaninya menghadap dosen laki-laki dalam mempertahankan disertasinya untuk meraih gelar magister (MA). Temannya berkata: “tak tahukah engkau bahwa kita ini hidup di abad 20?
  • Seorang dokter wanita di salah satu rumah sakit, ketika ia memakai pakaian dokter hilanglah malunya. Wajah dan rambutnya serta pakaiannya terbuka. Seakan-akan menanggalkan agama dan malu adalah hal yang wajib bagi tugas kedokteran.
  • Saya pernah berkunjung ke salah satu kerabat yang saya kenal selalu menjaga kehormatan dan hijab/jilbab. Tiba–tiba saya dikejutkan oleh masuknya sopir pribadinya ke tempat pertemuan. Seakan-akan ia salah satu anggota keluarga yang tidak perlu menutup aurat darinya.
Ukhti! pernahkah engkau menduga, bahwa mereka wanita muslimah sadar, mengapa mereka berjilbab? Sesungguhnya realita menunjukkan bahwa mereka pada umumnya memandang jilbab hanya sebatas adat istiadat yang mereka warisi dari orang tua mereka dan sebagai bakti kepadanya yang telah menyuruhnya. Oleh sebab itu sebagai warisan dan adapt-istiadat suci, maka wajib di jaga dan di lestarikan.
Pernahkah ia bertanya, mengapa ia memakai jilbab? Dan siapa yang menyuruhnya? Bukankah itu perintah Allah Ta’ala!
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anakmu, dan wanita-wanita kaum muslim agar mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).
Tidakkah ia megetahui bahwa ia menta’ati perintah penciptanya yang memberi rizki yang menciptakan langit dan bumi dan mengetahui mana yang tidak pantas untuk makhluk-Nya.
Firman Allah:
“Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi”. (QS. Al Baqarah: 284).
Allah yang menciptakanmu:
“Demikianlah, itulah Allah tuhanmu, tidak ada tuhan yang patut di sembah selain Dia. Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.” (QS. Al An’am: 102).
Yang memberimu nikmat:
“Dan apa saja nikmat yang ada padamu maka dari Allah jualah”. (QS. An Nahl: 53).
Yang mematikanmu:
“Dan datanglah sakaratul maut (kematian) sebanar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari dari padanya.” (QS. Qaaf: 19).
Yang berfirman:
“Pada hari (ketika) Kami berkata kepada neraka Jahannam: apakah kamu sudah penuh ? dia menjawab: masih adakah tambahan? Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat-tempat yang tidak jauh (dari mereka).” (QS. Qaaf: 30-31).
Yang berfirman:
“Hari (ketika) kami mengumpulkan orang-orang yang takwa kepada Dzat yang Maha Pemurah sebagai perutusan (yang terhormat), dan kami menggiring orang-orang yang durhaka ke neraka Jahannam dalam keadaan dahaga.” (QS. Maryam: 85-86).
Yang mengadili pada hari yang menakutkan:
“Pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi adzab Allah itu sangat keras.” ( QS; Al Hajj :2).
Ukhti Al Muslimah !
Tidakkah engkau baca firman Allah :
“Katakanlah kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya serta tidak menampakkan perhiasannya kecuali (yang biasa) nampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka.” (QS. An Nur: 31).
Yaitu tidak menampakkan sedikitpun perhiasannya kepada orang-orang asing (bukan muhrim) kecuali sesuatu yang tidak mungkin disembunyikan berupa pakaian yang tidak menyolok, dan hendaklah menjulurkan penutup kepalanya (jilbab) sampai ke dadanya sehingga tertutup. Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
(( يَرْحَمُ اللهُ النِّسَاءَ الْمُهَاجِرَاتِ اْلأُوَلَ لمَاَ أَنْزَلَ اللهُ ))
“Semoga Allah merahmati wanita-wanita pertama yang berhijrah (muhaajiraat), yaitu ketika Allah menurunkan firman-Nya:
“Hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka.” (QS. An Nur: 31).
(( شَقَّقْنَ مُرُوْطَهُنَّ فَاخْتَمَرْنَ بِهَا ))
(Mereka langsung merobek ordeng mereka untuk di jadikan jilbab).
Ukhti Al Muslimah !
Janganlah berkata: “Kita bukan mereka” bagaimana mungkin kita bisa mencapai apa yang mereka capai? jangan engkau heran! seorang penyair berkata:
فَتَشَبَّهُوْا إِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا مِثْلَهُمْ
إِّنَ التَّشَبُّهَ بِالْكِرَامِ فَلاَحُ
Berusahalah meniru orang-orang yang mulia walau tidak sama persis seperti mereka.
Sebab meniru orang yang mulia itu merupakan keberuntungan.
Ukhti Al Muslimah!
Tidakkah engkau baca firman Allah tentang isteri-isteri Nabi:
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi r) maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (QS. Al Ahzab: 53).
Lebih suci dari hati siapa, wahai ukhti ? lebih suci dari hati isteri-isteri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, (ummahatul mu’minin). Lebih suci bagi hati para sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, umat yang terbaik setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam?
Bagaimana dengan hati kita pada masa sekarang? Apakah Dzat Yang Menciptakanmu, Yang mengetahui cara yang terbaik untuk mensucikan hati, sama dengan orang yang tidak mengetahui hal itu?
Ukhti Al Muslimah …!
Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang beriman: “hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59).
Ibnu Abbas rhadiyallahu ‘anhu berkata: “Allah memerintahkan isteri-isteri orang beriman, apabila keluar dari rumah untuk suatu keperluan, hendaklah menutup wajahnya dari atas kepala dengan jilbabnya”.
Allah memerintahkan isteri-isteri orang yang beriman melakukan hal tersebut di atas, agar mereka dikenal dengan tertutup rapi, bersih, dan suci. Dengan demikian ia tidak akan di ganggu orang- orang yang jahat.
Coba engkau perhatikan: siapa yang lebih sering digoda dan diganggu lelaki di jalan? tentu mereka yang suka bersolek ala jahiliyah.
Perhatikan firman Allah di bawah ini:
“Dan perempuan-perempuan yang telah berhenti (dari haid dan mengandung) yang tidak ingin kawin lagi, tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka tanpa (bermaksud) menampakkan perhiasan. Dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur: 60 ).
Allah memberitahukan bahwa berjilbabnya perempuan tua yang tidak ingin menikah lagi serta tidak menampakkan perhiasan itu lebih utama, walaupun diperbolehkan bagi mereka untuk buka wajah dan tangan dengan syarat berlaku sopan (Islami).
Al Qur’an telah mewajibkan wanita muslimah untuk memakai jilbab (hijab) dan mengharamkan bersolek ala jahiliyah (tabarruj).
Ukhti Al Muslimah!
Dengarlah kata ibundamu, Ummul Mu’minin ketika bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:
سَأَلْتُ النَّبِيَّ r كَيْفَ يَصْنَعُ النِّسَاءُ بِذُيُوْلِهِنَّ (أَسْفَلِ الثِّيَابِ) ؟ قَالَ: يُرْخِيْنَهُ شِبْرًا، قَالَتْ: إِذَا تَنْكَشِفُ أَقْدَامُهُنَّ، قاَلَ: يُرْخِيْنَهُ ذِرَاعًا لاَ يَزِدْنَ عَلَيْهِ. متفق عليه
“Apa yang harus diperbuat wanita dengan ujung baju mereka? Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Hendaklah ia turunkan satu jengkal (dari mata kaki) Ummul Mu’minin berkata: “kalau begitu akan tersingkap telapak kaki kami, wahai Rasulullah” Nabi bersabda: “turunkan satu hasta dan jangan dilebihkan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Subhanallah! Ummahatul Mu’minin meminta agar diperpanjang bajunya, sedang wanita-wanita kita malah banyak memendekkan (menaikkan ke lutut bahkan ada yang ada di atasnya) dan mereka tak peduli.
مَنَعَ السُّفُوْرَ كِتَابُنَا وَنَبِيُّناَ@ فَاسْتَنْطِقِي اْلآثَارَ وَاْلآياتِ
“Nabi dan kitab suci kita melarang telanjang, tidak menutup aurat, maka tanyakan kepada hadits dan ayat suci Al Qur’an”
Adapun hijab artinya adalah menutup badan, dan sebagai ciri dari sekumpulan peraturan sosial yang berhubungan dengan keadaan wanita dalam undang-undang Islam, yang telah ditetapkan Allah untuk menjadi benteng yang kuat, yang menjaga kehormatan, kemuliaan, dan keluhuran wanita. Pakaian yang memelihara masyarakat dari fitnah, dan dalam ruang lingkup yang ketat sebagai sarana bagi wanita untuk membentuk generasi Islam, merajut masa depan umat, yang pada gilirannya ikut berperan dalam perjuangan Islam dan mengokohkannya di muka bumi ini.
– bersambung, insyaAllaah –

Comments