{UNIQUE NEWS CENTER at home and abroad}
Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul dari Valentine’s Day, namun pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Peringatan hari besar ini dirayakan untuk menghormati Juno (Tuhan Wanita) dan Perkawinan, serta Pah (Tuhan dari Alam). pada saat itu digambarkan orang-orang muda (laki-laki dan wanita) memilih pasangannya secara diundi, kemudian mereka bertukar hadiah sebagai pernyataan cinta kasih. Dengan diikuti berbagai macam pesta dan hura-hura bersama pasangannya masing-masing.
Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan.
Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998). Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).
Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel Should Biblical Christians Observe It? mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”. Dalam Islam hal ini tentu termasuk Syirik, artinya menyekutukan Allah. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah, adalah putra Nimrod, the hunter (dewa Matahari). Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!
Valentine’s Day; Ritual Cinta Yang
Membodohi Remaja
Suara Pembaca
Oleh: Fajar Ifantri, KOM
Yangkautau.blogspot.com – Tanggal 14 Februari
telah menjadi hari special yang ditunggu-
tunggu oleh para remaja di dunia, tak
terkecuali remaja di Indonesia. Mereka
terlanjur meyakini hari ini sebagai hari
kasih sayang yang harus diisi dengan
perayaan istimewa. Mulai dari saling tukar
kado, menyatakan cinta, ciuman, sampai
seks bebas merupakan aktivitas yang turut
mewarnai valentine’s day.
Sejarah Valentine’s Day
Valentine’s Day yang kini dimaknai
sebagai hari kasih sayang, tidak muncul
dan diperingati begitu saja. Terdapat
beberapa versi tentang asal-usul lahirnya
Valentine’s Day. Versi pertama, menurut
catatan The World Book Encyclopedia
(1998) disebutkan bahwa sejarah
Valentine’s Day bermula dari sebuah
kepercayaan di Eropa. Kepercayaan kuno ini
menyebutkan bahwa cinta burung jantan
dan betina mulai bersemi pada tanggal 14
Februari. Burung-burung memilih
pasangannya pada hari itu. Berdasarkan
kepercayaan kuno di kalangan masyarakat
Eropa kala itu, lalu kemudian mereka
menganjurkan agar pemuda-pemudi
memilih pasangannya di hari yang sama
seperti berseminya cinta burung jantan dan
betina. Apalagi dalam bahasa Perancis
Normandia terdapat kata Gelantine yang
berarti cinta. Persamaan bunyi antara
Gelantine dan Valentine inilah yang
dijadikan dasar penetapan hari kasih
sayang.
Versi kedua, menghubungkan Valentine’s
Day ini dengan seorang pendeta. Menurut
beberapa ahli sejarah bahwa Valentine’s
Day diadopsi dari nama seorang pendeta
bernama Saint Valentine. Dia ditangkap
oleh kaisar Claudius II karena menyatakan
Tuhannya adalah Isa Al-Masih. Dia juga
menolak menyembah Tuhan-Tuhan orang
Romawi. Kaisar lalu memerintahkan agar
dia di penjara dan pada akhirnya dijatuhi
hukuman gantung. Orang-orang yang
bersimpati kepadanya, lalu menulis surat
tentang kecintaan mereka kepada doa sang
pendeta. Surat itu kemudian dipajang dan
diikatkan di terali bekas penjaranya.
Sementara versi ketiga mengacu pada
sebuah pesta yang dilakukan orang-orang
Romawi kuno yang disebut Lupercalia.
Inilah versi terkuat yang diyakini
kebenarannya hingga saat ini. Perayaan
Lupercalia merupakan rangkaian pensucian
di masa Romawi kuno. Upacara yang
khusus dipersembahkan untuk mengenang
dan mengagungkan dewi cinta (Queen of
Feverish Love) yang bernama Juno
Februata. Dalam pesta tersebut, para
pemuda mengambil nama gadis di sebuah
kotak secara acak. Nama gadis yang
diambilnya tadi kemudian menjadi
pendampingnya selama setahun untuk
bersenang-senang.
Bergesernya Makna Valentine’s Day
Seiring berjalannya waktu, tahun 496 M
Paus Gelasius I mengubah upacara ini
menjadi hari perayaan gereja dengan nama
Saint Valentine’s Day. Upacara untuk
menghormati Saint Valentine yang mati
digantung oleh kaisar Claudius. Dia
digantung karena melanggar aturan kaisar
yang melarang para pemuda untuk
menikah. Kaisar Claudius berpendapat
bahwa tentara yang masih muda dan
berstatus bujangan lebih tabah dan kuat
dalam medan peperangan. Lelaki yang
belum beristri lebih sabar bertahan dalam
perang dibandingkan tentara yang sudah
menikah. Oleh Karena itu, kaisar
memerintahkan untuk melarang kaum laki-
laki untuk menikah. Namun, Saint Valentine
menentang kebijakan itu. Dia berpendapat
bahwa pemuda-pemudi tetap harus
mendapat ruang yang luas untuk
melampiaskan hasrat cintanya. Dia lalu
secara diam-diam menikahkan banyak
pemuda.
Sejak orang-orang Romawi kuno mengenal
agama Nasrani, maka pesta jamuan kasih
sayang ini (pesta Lupercalia) lalu dikaitkan
dengan upacara kematian Saint Valentine.
Setelah Paus Gelasius menetapkan tanggal
14 Februari sebagai tanggal penghormatan
buat Saint Valentine, maka akhirnya
perayaan ini berlangsung secara terus
menerus setiap tahunnya hingga sekarang.
Hari ini dijadikan sebagai momen untuk
saling tukar menukar pesan kasih dan
menempatkan Saint Valentine sebagai
simbol dari para penabur kasih. Hari
Valentine ditandai dengan saling mengirim
puisi dan hadiah seperti bunga, coklat, dan
gua-gula. Hari Valentine juga diisi dengan
acara kumpul-kumpul, pesta dansa,
minum-minuman alkohol hingga pesta
seks. Singkatnya perayaan kasih sayang ini
dipersembahkan untuk mengagungkan
Saint Valentine yang dianggap sebagai
simbol ketabahan, kepasrahan, dan
keberanian dalam memperjuangkan cinta.
Sikap Seorang Remaja
Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kaum
remaja khususnya pemuda-pemudi Islam?
Haruskah mereka ikut hanyut dalam
perayaan itu? Tentu jawabannya tidak.
Karena Valentine’s Day bertentangan
dengan nilai-nilai Islam. Valentine’s Day
bersumber dari paganisme orang musyrik
penyembah berhala. Valentine’s Day
justru telah merendahkan dan
mempersempit makna cinta. Cinta dihargai
sebatas coklat, bunga mawar, greeting
card, ciuman dan seks bebas. Valentine’s
Day juga menyempitkan kasih sayang
hanya sehari saja. Padahal dalam Islam,
kasih sayang itu perlu diaktualisasikan
setiap saat dan di setiap tempat. Bahkan
kita diperintahkan untuk menyebarkan
kasih sayang kepada seluruh manusia.
Perayaan Valentine’s Day juga
menggiring remaja untuk melakukan seks.
Hal itu dapat kita saksikan dengan jelas dari
propaganda mereka. Seorang pakar
kesehatan di Inggris bahkan menganjurkan
seks di hari Valentine. Direktur kesehatan
British Heart Foundation yakni Prof. Charles
George mengungkapkan bahwa seks bebas
tidak saja membakar 100 kalori dalam
tubuh, tetapi juga sangat baik untuk
kesehatan. Oleh karena itu, dia
menganjurkan agar masyarakat di
manapun, baik tua maupun remaja,
hendaknya mengisi perayaan hari Valentine
dengan pesta seks.
Olehnya itu, penulis secara pribadi dan
sebagai pendidik mengajak kepada seluruh
remaja khususnya pemuda-pemudi Islam
untuk menjauhi dan tidak ikut-ikutan
dalam perayaan ini. Siapa yang ikut
merayakan Valentine’s Day berarti dia
telah merusak pribadinya sendiri sebagai
muslim dan bahkan menjadi bagian dari
mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah
SAW: “Barang siapa yang menyerupai
sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari
mereka.” (HR. Abu Daud)
Allah SWT berfirman :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya? (QS. Al-Isra’ [17]: 36).
Ikut Valentine’s Day berarti menghancurkan kepribadian dan karakter kita sendiri, kepribadian muslim. Maka dari itu jauhilah kebiasaan yang jahiliyah, yang dapat merusak kepribadian kita, merusak keIslaman kita. Jika generasi muda muslim telah rusak, maka Islam ini akan mudah dihancurkan. Kita sebagai muslim memiliki karakter dan kepribadian yang khas dan istimewa berdasarkan teladan Rasulullah SAW. Tanggung jawab kita adalah menyerap, mengamalkan dan memeliharanya. Jadi, mengapa harus mengambil kepribadian orang lain yang belum tentu baik, atau bahkan nyata keburukannya? Wallahu A’lam.
Sumber: http://www.isdaryanto.com/sejarah-valentines-day
Sebenarnya ada banyak versi yang tersebar berkenaan dengan asal-usul dari Valentine’s Day, namun pada umumnya kebanyakan orang mengetahui tentang peristiwa sejarah yang dimulai ketika dahulu kala bangsa Romawi memperingati suatu hari besar setiap tanggal 15 Februari yang dinamakan Lupercalia. Peringatan hari besar ini dirayakan untuk menghormati Juno (Tuhan Wanita) dan Perkawinan, serta Pah (Tuhan dari Alam). pada saat itu digambarkan orang-orang muda (laki-laki dan wanita) memilih pasangannya secara diundi, kemudian mereka bertukar hadiah sebagai pernyataan cinta kasih. Dengan diikuti berbagai macam pesta dan hura-hura bersama pasangannya masing-masing.
Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama–nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan.
Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur.
Ketika agama Kristen Katolik menjadi agama negara di Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I (lihat: The Encyclopedia Britannica, sub judul: Christianity). Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St.Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (lihat: The World Book Encyclopedia 1998).
The Catholic Encyclopedia Vol. XV sub judul St. Valentine menuliskan ada 3 nama Valentine yang mati pada 14 Februari, seorang di antaranya dilukiskan sebagai yang mati pada masa Romawi. Namun demikian tidak pernah ada penjelasan siapa “St. Valentine” termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena tiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.
Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II memerintahkan menangkap dan memenjarakan St. Valentine karena menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih dan menolak menyembah tuhan-tuhan orang Romawi. Orang-orang yang mendambakan doa St.Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.
Versi kedua menceritakan bahwa Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat dalam medan peperangan dari pada orang yang menikah. Kaisar lalu melarang para pemuda untuk menikah, namun St.Valentine melanggarnya dan diam-diam menikahkan banyak pemuda sehingga iapun ditangkap dan dihukum gantung pada 14 Februari 269 M (lihat: The World Book Encyclopedia, 1998). Kebiasaan mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan St. Valentine. Pada 1415 M ketika the Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St.Valentine 14 Februari, ia mengirim puisi kepada istrinya di Perancis. Kemudian Geoffrey Chaucer, penyair Inggris mengkaitkannya dengan musim kawin burung dalam puisinya (lihat: The Encyclopedia Britannica, Vol.12 hal.242 , The World Book Encyclopedia, 1998).
Lalu bagaimana dengan ucapan “Be My Valentine?” Ken Sweiger dalam artikel Should Biblical Christians Observe It? mengatakan kata “Valentine” berasal dari Latin yang berarti : “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Maka disadari atau tidak, -tulis Ken Sweiger- jika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”. Dalam Islam hal ini tentu termasuk Syirik, artinya menyekutukan Allah. Adapun Cupid (berarti: the desire), si bayi bersayap dengan panah, adalah putra Nimrod, the hunter (dewa Matahari). Disebut tuhan Cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri!
Valentine’s Day; Ritual Cinta Yang
Membodohi Remaja
Suara Pembaca
Oleh: Fajar Ifantri, KOM
Yangkautau.blogspot.com – Tanggal 14 Februari
telah menjadi hari special yang ditunggu-
tunggu oleh para remaja di dunia, tak
terkecuali remaja di Indonesia. Mereka
terlanjur meyakini hari ini sebagai hari
kasih sayang yang harus diisi dengan
perayaan istimewa. Mulai dari saling tukar
kado, menyatakan cinta, ciuman, sampai
seks bebas merupakan aktivitas yang turut
mewarnai valentine’s day.
Sejarah Valentine’s Day
Valentine’s Day yang kini dimaknai
sebagai hari kasih sayang, tidak muncul
dan diperingati begitu saja. Terdapat
beberapa versi tentang asal-usul lahirnya
Valentine’s Day. Versi pertama, menurut
catatan The World Book Encyclopedia
(1998) disebutkan bahwa sejarah
Valentine’s Day bermula dari sebuah
kepercayaan di Eropa. Kepercayaan kuno ini
menyebutkan bahwa cinta burung jantan
dan betina mulai bersemi pada tanggal 14
Februari. Burung-burung memilih
pasangannya pada hari itu. Berdasarkan
kepercayaan kuno di kalangan masyarakat
Eropa kala itu, lalu kemudian mereka
menganjurkan agar pemuda-pemudi
memilih pasangannya di hari yang sama
seperti berseminya cinta burung jantan dan
betina. Apalagi dalam bahasa Perancis
Normandia terdapat kata Gelantine yang
berarti cinta. Persamaan bunyi antara
Gelantine dan Valentine inilah yang
dijadikan dasar penetapan hari kasih
sayang.
Versi kedua, menghubungkan Valentine’s
Day ini dengan seorang pendeta. Menurut
beberapa ahli sejarah bahwa Valentine’s
Day diadopsi dari nama seorang pendeta
bernama Saint Valentine. Dia ditangkap
oleh kaisar Claudius II karena menyatakan
Tuhannya adalah Isa Al-Masih. Dia juga
menolak menyembah Tuhan-Tuhan orang
Romawi. Kaisar lalu memerintahkan agar
dia di penjara dan pada akhirnya dijatuhi
hukuman gantung. Orang-orang yang
bersimpati kepadanya, lalu menulis surat
tentang kecintaan mereka kepada doa sang
pendeta. Surat itu kemudian dipajang dan
diikatkan di terali bekas penjaranya.
Sementara versi ketiga mengacu pada
sebuah pesta yang dilakukan orang-orang
Romawi kuno yang disebut Lupercalia.
Inilah versi terkuat yang diyakini
kebenarannya hingga saat ini. Perayaan
Lupercalia merupakan rangkaian pensucian
di masa Romawi kuno. Upacara yang
khusus dipersembahkan untuk mengenang
dan mengagungkan dewi cinta (Queen of
Feverish Love) yang bernama Juno
Februata. Dalam pesta tersebut, para
pemuda mengambil nama gadis di sebuah
kotak secara acak. Nama gadis yang
diambilnya tadi kemudian menjadi
pendampingnya selama setahun untuk
bersenang-senang.
Bergesernya Makna Valentine’s Day
Seiring berjalannya waktu, tahun 496 M
Paus Gelasius I mengubah upacara ini
menjadi hari perayaan gereja dengan nama
Saint Valentine’s Day. Upacara untuk
menghormati Saint Valentine yang mati
digantung oleh kaisar Claudius. Dia
digantung karena melanggar aturan kaisar
yang melarang para pemuda untuk
menikah. Kaisar Claudius berpendapat
bahwa tentara yang masih muda dan
berstatus bujangan lebih tabah dan kuat
dalam medan peperangan. Lelaki yang
belum beristri lebih sabar bertahan dalam
perang dibandingkan tentara yang sudah
menikah. Oleh Karena itu, kaisar
memerintahkan untuk melarang kaum laki-
laki untuk menikah. Namun, Saint Valentine
menentang kebijakan itu. Dia berpendapat
bahwa pemuda-pemudi tetap harus
mendapat ruang yang luas untuk
melampiaskan hasrat cintanya. Dia lalu
secara diam-diam menikahkan banyak
pemuda.
Sejak orang-orang Romawi kuno mengenal
agama Nasrani, maka pesta jamuan kasih
sayang ini (pesta Lupercalia) lalu dikaitkan
dengan upacara kematian Saint Valentine.
Setelah Paus Gelasius menetapkan tanggal
14 Februari sebagai tanggal penghormatan
buat Saint Valentine, maka akhirnya
perayaan ini berlangsung secara terus
menerus setiap tahunnya hingga sekarang.
Hari ini dijadikan sebagai momen untuk
saling tukar menukar pesan kasih dan
menempatkan Saint Valentine sebagai
simbol dari para penabur kasih. Hari
Valentine ditandai dengan saling mengirim
puisi dan hadiah seperti bunga, coklat, dan
gua-gula. Hari Valentine juga diisi dengan
acara kumpul-kumpul, pesta dansa,
minum-minuman alkohol hingga pesta
seks. Singkatnya perayaan kasih sayang ini
dipersembahkan untuk mengagungkan
Saint Valentine yang dianggap sebagai
simbol ketabahan, kepasrahan, dan
keberanian dalam memperjuangkan cinta.
Sikap Seorang Remaja
Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kaum
remaja khususnya pemuda-pemudi Islam?
Haruskah mereka ikut hanyut dalam
perayaan itu? Tentu jawabannya tidak.
Karena Valentine’s Day bertentangan
dengan nilai-nilai Islam. Valentine’s Day
bersumber dari paganisme orang musyrik
penyembah berhala. Valentine’s Day
justru telah merendahkan dan
mempersempit makna cinta. Cinta dihargai
sebatas coklat, bunga mawar, greeting
card, ciuman dan seks bebas. Valentine’s
Day juga menyempitkan kasih sayang
hanya sehari saja. Padahal dalam Islam,
kasih sayang itu perlu diaktualisasikan
setiap saat dan di setiap tempat. Bahkan
kita diperintahkan untuk menyebarkan
kasih sayang kepada seluruh manusia.
Perayaan Valentine’s Day juga
menggiring remaja untuk melakukan seks.
Hal itu dapat kita saksikan dengan jelas dari
propaganda mereka. Seorang pakar
kesehatan di Inggris bahkan menganjurkan
seks di hari Valentine. Direktur kesehatan
British Heart Foundation yakni Prof. Charles
George mengungkapkan bahwa seks bebas
tidak saja membakar 100 kalori dalam
tubuh, tetapi juga sangat baik untuk
kesehatan. Oleh karena itu, dia
menganjurkan agar masyarakat di
manapun, baik tua maupun remaja,
hendaknya mengisi perayaan hari Valentine
dengan pesta seks.
Olehnya itu, penulis secara pribadi dan
sebagai pendidik mengajak kepada seluruh
remaja khususnya pemuda-pemudi Islam
untuk menjauhi dan tidak ikut-ikutan
dalam perayaan ini. Siapa yang ikut
merayakan Valentine’s Day berarti dia
telah merusak pribadinya sendiri sebagai
muslim dan bahkan menjadi bagian dari
mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah
SAW: “Barang siapa yang menyerupai
sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari
mereka.” (HR. Abu Daud)
MENYIKAPI HARI VALENTINE
Sejarah Valentine di atas menjelaskan kepada kita apa dan bagaimana Valentine’s Dayitu, yang tidak lain bersumber dari paganisme orang musyrik, penyembahan berhala dan penghormatan pada pastor. Bahkan tak ada kaitannya dengan kasih sayang. Lalu kenapa kita masih juga menyambut hari valentine? Adakah ia merupakan hari yang istimewa? Adat kebiasaan? Atau hanya ikut-ikutan semata tanpa tahu asal muasalnya? Bila demikian, sangat disayangkan banyak teman-teman kita -remaja putra-putri muslim – yang terkena penyakit ikut-ikutan mengekor budaya Barat dan acara ritual agama lain.Allah SWT berfirman :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertangggungjawabnya? (QS. Al-Isra’ [17]: 36).
Ikut Valentine’s Day berarti menghancurkan kepribadian dan karakter kita sendiri, kepribadian muslim. Maka dari itu jauhilah kebiasaan yang jahiliyah, yang dapat merusak kepribadian kita, merusak keIslaman kita. Jika generasi muda muslim telah rusak, maka Islam ini akan mudah dihancurkan. Kita sebagai muslim memiliki karakter dan kepribadian yang khas dan istimewa berdasarkan teladan Rasulullah SAW. Tanggung jawab kita adalah menyerap, mengamalkan dan memeliharanya. Jadi, mengapa harus mengambil kepribadian orang lain yang belum tentu baik, atau bahkan nyata keburukannya? Wallahu A’lam.
Sumber: http://www.isdaryanto.com/sejarah-valentines-day

Comments
Post a Comment
Tinggalkan comentar anda!!
Caranya : (1) Ketik Komentar Anda, (2) Klik "Select profile", (3) Pilih "Name/URL", (4) Ketik Nama Anda ya... (5) URL Isi dengan Link Facebook Anda atau Kosongin aja, (6) Klik "Lanjutkan" dan "Poskan Komentar"
Untuk Pengguna Facebook Silahkan Berkomentar
No Spam!!