{UNIQUE NEWS CENTER at home and abroad}
Awalnya saya selalu merasa iba ketika melihat pengemis di jalan raya tepatnya di pinggir trotoar itu meminta-minta dengan dandanan yang lusuh. Pikiran saya adalah meskipun kata orang banyak dari mereka yang menipu tapi setidaknya mereka punya keluarga yang dinafkahi, plus apa ruginya jika memberi 1000 atau 2000 rupiah kepada mereka, toh itu ibadah.
Saya juga iba ketika melihat anak-anak kecil melintas di depan kendaraan saya sambil memasang muka iba lengkap dengan dandanan lusuhnya. Saya pikir mungkin kedua orang tuanya sudah tidak mampu memberikan kehidupan yang normal pada mereka, baik itu menyekolahkan mereka maupun sekedar memberikan mereka uang jajan. Wajar kalau mereka turun ke jalan untuk mengais rejeki.
Pikiran awal saya itu menjadi tergugah, ketika melihat pengemis-pengemis ini dari sisi yang berbeda, bukan dari pandangan iba, ibadah atau pun membantu. Ini tentang hidup yang normal dan ketidaknormalan yang mereka suguhkan, dan menjadi tidak normal ketika kita mengikuti alur yang mereka tonjolkan. Pada dasarnya kebanyakan dari mereka bukan miskin harta tapi miskin psikologis.
Pertama, mengemis dijadikan sebuah Pekerjaan di mana mereka para pengemis melakukan pembohongan baik kepada diri mereka sendiri maupun orang lain. Ketika mengemis dijadikan sebuah pekerjaan, itu artinya lapangan pekerjaan “mengemis” itu hanya diisi oleh orang-orang malas. Banyak dari pengemis ini yang “sukses” dari hasil mengemis. Salah satu contohnya, lihat saja bagaimana perkampungan pengemis di daerah Indramayu, banyak dari mereka yang mengemis di Ibu Kota tapi hidup mewah di desa. Artinya, kalau kita memberikan rupiah pada mereka itu sama saja kita mendukung “lapangan pekerjaan-nya orang-orang malas”.
Kedua, memberi uang pada “pengemis kecil” sama saja mendukung agar anak-anak kecil ini nantinya tumbuh menjadi pengemis dewasa. Itu sama saja mendukung anak kecil ini untuk menjadi pemalas yang pesimis. Kadang anak-anak kecil ini sengaja disuruh oleh orang tua mereka untuk mengais rejeki, bagi orang-orang tua ini anak adalah asset. Untuk itu hal semacam ini tidak patut untuk dibiarkan.
Saran saya, jika anda ingin menyisihkan rejeki untuk beramal baiknya anda berikan pada lembaga-lembaga atau tempat ibadah yang memang dapat dipercaya dalam mengelolah dana amal. Atau berikan pada saudara, tetangga atau teman yang anda anggap sedang membutuhkan. Hal itu lebih baik ketimbang anda memberikannya pada pengemis, itu sama saja mendukung kedzoliman yang terselubung!
foto: theepochtimes.com
Comments
Post a Comment
Tinggalkan comentar anda!!
Caranya : (1) Ketik Komentar Anda, (2) Klik "Select profile", (3) Pilih "Name/URL", (4) Ketik Nama Anda ya... (5) URL Isi dengan Link Facebook Anda atau Kosongin aja, (6) Klik "Lanjutkan" dan "Poskan Komentar"
Untuk Pengguna Facebook Silahkan Berkomentar
No Spam!!